Muthu Kumaran terdiam sejenak, matanya terpaku pada sebuah kotak kayu tua yang tampak lusuh di hadapannya. Ia menemukannya di loteng lama milik datuknya—terlindung debu tebal dan jaring labah-labah yang menggantung. Rasa ingin tahunya membuak, mendorongnya untuk mengangkat kotak itu dan meletakkannya di atas meja.
Dengan hati berdebar, dia membuka penutup kotak perlahan-lahan. Di dalamnya terletak sebuah cermin kecil berbingkai perak yang telah pudar warnanya. Namun, cermin itu bukan sembarang cermin—permukaannya tampak beriak lembut, memancarkan cahaya samar yang menenangkan. Saat Muthu Kumaran menatap pantulannya, bayangan seorang budak lelaki muncul, tersenyum ceria sambil menggenggam sebuah kapal mainan.
Di bawah cermin itu, tersembunyi sebuah pembaris kayu. Ia tampak biasa saja, tanpa ciri istimewa. Namun, Muthu Kumaran teringat akan kisah-kisah datuknya tentang benda-benda ajaib yang mampu mengubah kenyataan. Dia meletakkan pembaris itu di sisi cermin. Tiba-tiba, pembaris itu bersinar terang, dan cahaya dari cermin pun semakin memancar.
Cahaya itu membesar, menyelimuti seluruh ruangan dalam kilauan magis. Muthu Kumaran menutup matanya. Saat dia membukanya kembali, dia tidak lagi berada di kamarnya. Di hadapannya terbentang padang rumput yang luas, dengan sungai yang mengalir tenang di kejauhan. Pembaris di tangannya terasa hangat, dan cermin itu memantulkan dunia baru yang belum pernah dilihatnya. Muthu Kumaran tersenyum, bersedia untuk mengukur dan menjelajahi setiap sudut dari realiti ajaib yang kini terbuka di hadapannya.
No comments:
Post a Comment